Cerpen : Nasi Goreng

Nasi Goreng

Panggil saja M3 karena dari nama Mufidah M Muhamad. Baru menginjak semester satu jurusan psikologi di salah satu universitas islam di Jawa Timur. Ingin mengenal lebih dekat kunjungi IG @mufmunmuh.

“Assalamu’alaikum.”

Pintu berderit pelan terbuka. Si tamu langsung masuk tanpa menunggu jawaban dari orang yang memiliki rumah tersebut. Ketika sudah terbuka, nyatanya ruangan itu pengap. Kosong melompong tanpa ada tanda-tanda kehidupan di sana.

“Di mana mereka? Apa jangan-jangan sudah pindah?” gumam lelaki yang kita dipenuhi uban

Langkahnya terus maju. Menyisir tiap sudut-sudut rumah yang tak dijamah lagi olehnya selama belasan tahun. Keusangan terlihat dari struktur rumah yang banyak memiliki keretakan. Barang-barangnya hampir semua telah terganti.

“Rupanya mereka tidak mengapa.”

Satu kamar yang dulu pernah menjadi saksi cinta sucinya masih sama. Ternyata tak ada perubahan berarti di sana. Hanya sebuah kacamata rabun dekat dan mukena di atas meja. Beralih ke kamar yang lain. Kamar putri kecilnya. Sudah lama tak pernah ia jumpai wajahnya. Senyumnya yang manis dan tubuhnya yang mungil. Masih tertanam kuat di dalam memori ingatannya. Setetes buliran lolos jatuh ke pipinya.

“Maafkan bapak, nduk, le.” katanya sambil mengingat anak keduanya yang kala ia tinggal berusia du tahun

Ketika membalikkan badan ingin keluar kamar, Damar menemukan sebuah amplop panjang yang diselipkan pada salah satu halaman novel. Pria berusia 51 tahun itu mendekat. Lalu membuka lembar pertama dari novel. Tertulis beberapa kata di sana.

Kado dari adik tershalihku, Dandi.

Milik: Nirma Lasmana, 28 September 2005.

Daerah Z

Begitu tulisan yang tertera di sana. Semakin deraslah tangisan laki-laki yang sudah kurus itu. Ia hampir lupa bagaimana rupa sang putra kecilnya. Kemudian langsung saja ia buka sebuah amplop berwarna cream yang ada di tengah-tengah halaman. Sebuah surat usang terpapar di sana. Dilihat sekilas saja sudah diketahui bahwa kertas itu dulunya bewarna putih. Kini sudah menguning dan sedikit berdebu. Damar pun membukanya.

Daerah Z, 07 Agustus 1989

Hari ini bapak pergi. Katanya mau kerja ke luar kota. Aku tidak paham kenapa bapak meninggalkan kami bertiga di sini. Aku harap bapak kembali. Walau aku tahu, tapi menentang kenyataan yang terjadi. Bapak hilang karena seorang janda kaya. Padahal aku sudah memasak nasi goreng kesukaan kami. Nyatanya panggilanku tak digubris sama sekali. Ia tak menoleh bahkan sekadar berhenti sejenak. Sejak saat itu aku tak mau memakan nasi goreng.

Daerah Q, 27 September 2005

Hari ini wisuda dan aku sudah mau mencicipi nasi goreng buatan ibu. Pak, pembalasan dendam Nirma sudah selesai.

Damar semakin histeris setelah membaca. Langsung saja ia membuat nasi goreng kesukaannya dan putri kecilnya. Ia menunggu di ruang tamu. Dari siang yang terik sampai menjelang maghrib tidak ada siapapun yang kembali ke rumah. Dirinya yakin bahwa rumah tersebut masih ditempati karena barang-barang anaknya yang dilihat tadi masih berusia dua bulan. Jadi tak mungkin ditinggal sia-sia di rumah itu.

Setelah adzan isya’ berkumandang, sayup-sayup terdengar suara warga. Semakin lama, suara itu terdengar semakin dekat. Pintu rumah dibuka dibuka dari depan. Ternyata warga kampung.

“Lho? Damar?”

“Ada apa kalian ramai-ramai ke sini?”

“Anak dan istrimu sudah meninggal dunia.”

“Ya Allah. Belum sempat aku berbicara lagi dengan mereka, Engkau sudah mengambilnya. Maafkan aku.”

Tak ada lagi kenangan yang dapat diukir. Tak ada lagi senyum dan tawa yang terlukis. Tak ada lagi doa yang dibentangkan dan tak ada lagi jiwa yang mengharapkan kehadirannya. Kesendirian memeluknya setelah 16 tahun pengabaian.

Penulis : Mufidah M Muhamad

Related Posts

Leave a Reply